Postingan kali ini masih tentang puisi, puisi ini saya tulis semasa kuliah dan punya backstory tersendiri. Silakan dibaca dengan seksama.
Sangsi (2014)
Saat gersang rinduku,
Ada setetes embun membasuh, damai
Setetes itu nyaris penuh...
Aku sangsi...ada setia kujaga, ada dusta pun
Terik hati kadang bermusim..
Ada ketidakrelaan, ada keegoisan,
Inveksi virus merah jambu,
Dulu pernah kutebas...dulu akan kumusnah,
Namun tak usai juga...
Maafkan aku, bukan salah perasaan, tapi ego yang memuncak
Maafkan hati sepi ini, yang tak bisa tanpa gejolak
Semua datang, dan tak semena menolak
Takut, dosaku atas aku, atas dia yang telah padanya terikat
Janji setiaku yang erat...
Tak rela pun jika rusak asa yang terbina,
Terlebih cinta dan setia yang kujaga...
Maafkan aku...
Sebelum saya bahas back story dari puisi ini, kita tilik dulu judul dari puisinya. Judulnya 'sangsi', oke untuk yang ga pernah baca KBBI pasti mikir arti dari kata sangsi ini adalah hukuman. Bukan Cok! Ini sangsi beda dengan sanksi, menurut KBBI sangsi artinya bimbang. Kalau sudah paham dengan judulnya kita bahas backstory atau isi dari puisi di atas.
Dari sini pembahasannya akan lebai, dan sebetulnya bikin geli penulis, wkwkwkwk. Melihat judulnya, si penulis atau aku dalam puisi tersebut sedang bimbang dengan keadaan yang dialami. Aku dalam puisi ini mempunyai janji setia dengan 'dia', tapi karena jarak & waktu, aku dalam puisi ini merasa sepi, lalu kemudian datang seseorang yang seolah-olah bisa menggantikan dia, tapi si aku mencoba kuat untuk bertahan demi janjinya dengan dia (si aku bucin, wkwkwk). Segitu saja mungkin sudah cukup jelas menggambarkan isi dari puisi di atas. Kalau dibahas terlalu lengkap terlalu lebay. Pertanyaan berikutnya siapa dia dalam puisi tersebut? Siapa seseorang yang datang tersebut? Kalau saja salah satu di antara kalian pembaca postingan ini temen kuliah penulis yang kenal cukup dekat pasti tau siapa dia & seseorang di dalam puisi berjudul 'sangsi' di atas.
Jangan lupa untuk berkomentar!
Komentar
Posting Komentar