Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Puisi: "Tak Semua Sepertimu" (backstory)

Seperti janji saya di postingngan sebelumnya, saya akan memposting atau lebih tepatnya me-repost beberapa puisi yang sudah pernah saya posting di blog saya disebelah yang mungkin setelah seri postingan tentang 'Puisi - backstory' kelar, blognya yang lama bakal saya hapus. Saya ngerti tingkat kekepoan netizen +62 ini luar biasa, jadi akan saya ceritakan sedikit back story dari puisi yang akan saya posting. Ini salah satu puisi orisinil saya, artinya saya ga njiplak dari mbah google.  [1] Bacalah puisi berikut lalujelaskan rima, majas, dan latar dari puisi tersebut! Tak Semua Sepertimu (2011) Gadis.. Tak semua sepertimu, Anggun dan senyummu manis Di balik jilbab putihmu Kaulah sempurna bagai mawar Itulah dikau Jilbab bagai duri mawar yg selalu menjagamu Teduhkan jiwa, Sejukkan hati Menatap wajah mempesona Berpaut jilbab suci Jangan pernah kau lepaskan lambang kesucian Biarkan itu abadi Karena aku akan lebih menyukai Saya nulis ini pas di kelas, di sela-sela jam pelajaran s...

Adab sebelum Ilmu

Apa itu adab? Apa itu ilmu? Dan bagaimana kedudukan keduanya satu sama lain? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adab berarti kehalusan & kebaikan budi pekerti; akhlak. Sedangkan ilmu adalah pengetahuan & kepandaian (tentang soal duniawi, akhirat, lahir, batin, dan sebagainya).  Berangkat dari pengertian di atas, ilmu dan adab adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Lalu bagaimana kedudukan keduanya? Mana yang harus di dahulukan belajar ilmu pengetahuan ataukah belajar tentang adab? Dalam menuntut ilmu, pelajari adab dulu. Ilmu dan adab tidaklah dapat dipisahkan, seorang penuntut ilmu harus beradab ketika menerima ilmu dari gurunya, beradab terhadap gurunya, beradab dengan teman-temannya, bahkan beradab terhadap buku yang dipelajarinya.  Menurut sejarah, banyak guru-guru besar, ulama, sebelum menuntut ilmu menyempurnakan akhlaknya, menyempurnakan adabnya. Ibnul Mubarak رحمه الله  dalam bukunya yang berjudul Min Hadyis Salaf Fi Thalibil Ilmi mengatakan: "Aku mempel...

Backstory

Panggil saja Epin. Ibuku seorang guru SD, ayahku petani walaupun ga punya tanah garapan sendiri. Anak pertama dari empat bersaudara. Lahir dan besar di desa Harapan Makmur, Kurik , Kabupaten Merauke. Dari lahir sampe punya KTP hanya muter-muter di kurik. TK Tunas Indah kalau ga salah, SD Inpres Kurik IV, SMPN 4 Kurik, SMAN 1 Kurik, dan selalu masuk 10 besar pastinya. Waktu SMP di kelas VIII pernah lolos seleksi OSN fisika (dulu belom IPA terpadu) tingkat kabupaten dan berangkat ke Jayapura terus mentok di situ. Aslinya ga suka sama sekali dengan fisika tapi Pak Mul memang luar biasa bisa ngangkat potensi ditambah bisa memotivasi saya yang dulu mindernya ga karuan. Tambahan, ini aib sih, pas lomba cerdas cermat di ulang tahun sekolah, kita punya tim dikasih bocoran jawaban soal fisika terus akhirnya kelasnya kita bisa menang, wkwkwk (maaf, bocor juga rahasianya :v). Terimakasih Pak Mul, dan semua guru-guruku. Kalian rela menjadi batu lompatan untuk kita generasi penerus. Semoga diberik...

Karena Ingatan bisa Hilang

Untuk apa nulis (ngeblog)? Karena tulisan di blog ini akan terus bisa dibaca ga akan hilang ditelan jaman. Karena tulisan ini tak seberharga prasasti peninggalan jaman kerajaan, ga mungkin saya nulis di batu terus pada suatu masa dicari-cari. Karena ingatan bisa hilang, tulisan ini akan menjadi prasasti-prasasti digitalku sendiri. Hobi nulis biasanya sepaket sama hobi baca. Hobi bacaku ini sudah ada sejak SD kayanya. Ibuku seorang guru SD jadi sebelum masuk ke TK seingatku sudah diajarin baca tulis jadi begitu masuk sekolah ga terbata-bata kalau disuruh baca¹. Ibu punya buku tebal-tebal sampulnya ungu dalamnya pake kertas HVS saya lupa judulnya hanya saja isinya banyak tes formatif . Seingatku buku yang tebalnya ratusan halaman dan jumlahnya lebih dari selusin itu semua sudah saya baca. Sampai-sampai pas kelas V ulangan harian pernah jawab soal IPA yang redaksijawabannya bukan anak SD banget, kalau ga salah soal tentang sifat-sifat cahaya. Gurunya² mungkin agak heran waktu itu sampai s...