Seperti janji saya di postingngan sebelumnya, saya akan memposting atau lebih tepatnya me-repost beberapa puisi yang sudah pernah saya posting di blog saya disebelah yang mungkin setelah seri postingan tentang 'Puisi - backstory' kelar, blognya yang lama bakal saya hapus.
Saya ngerti tingkat kekepoan netizen +62 ini luar biasa, jadi akan saya ceritakan sedikit back story dari puisi yang akan saya posting. Ini salah satu puisi orisinil saya, artinya saya ga njiplak dari mbah google.
[1] Bacalah puisi berikut lalujelaskan rima, majas, dan latar dari puisi tersebut!
Tak Semua Sepertimu (2011)
Anggun dan senyummu manis
Di balik jilbab putihmu
Kaulah sempurna bagai mawar
Itulah dikau
Jilbab bagai duri mawar yg selalu menjagamu
Teduhkan jiwa,
Sejukkan hati
Menatap wajah mempesona
Berpaut jilbab suci
Jangan pernah kau lepaskan
lambang kesucian
Biarkan itu abadi
Karena aku akan lebih menyukai
Gadis..
Tak semua sepertimu,Anggun dan senyummu manis
Di balik jilbab putihmu
Kaulah sempurna bagai mawar
Itulah dikau
Jilbab bagai duri mawar yg selalu menjagamu
Teduhkan jiwa,
Sejukkan hati
Menatap wajah mempesona
Berpaut jilbab suci
Jangan pernah kau lepaskan
lambang kesucian
Biarkan itu abadi
Karena aku akan lebih menyukai
Saya nulis ini pas di kelas, di sela-sela jam pelajaran sambil nunggu guru di jam berikutnya. Yang jelas ga sehari langsung jadi. Back Story-nya saya ini lagi mengagumi (yaelah bucin, wkwkwkwk) seorang perempuan yang tentunya berjilbab dan ga satu sekolahan, malah dia di kota sekolahnya. Intinya pada waktu itu saya kagum dengan perempuan cantik berjilbab syar'i (dulu ga ngerti istilah syar'i sebetulnya), konsisten, dan ga semua perempuan seperti dia gitu. Jilbab itu seolah-olah bisa melindungi dia seperti duri mawar yang melindungi keindahannya (yaelah lebay), dan saya mau dia tetap seperti itu seterusnya gitu. Kurang lebih seperti itu back story-nya. :-)
Mungkin ada beberapa diksi (pilihan kata) yang kurang tepat dari puisi jadul saya, maklum kosa kata belom banyak saat itu, dan sok tau. Tapi ya udahlah...lu guru bahasa Indonesia? sorry becanda, ini kan bukan untuk dinilai. Tapi jujur geli pas dibaca sekarang. Wkwkwkwk.
Mungkin situ pernah baca puisi ini di buku sidu 58 saya punya dulu, tinggalkan jejak digital dengan berkomentar di bawah secara positif.
Komentar
Posting Komentar